Oleh : Eni Susanti
Mahasiswa Universitas Ngudi Waluyo
Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan semakin meningkat. Salah satu bidang yang terdampak oleh gerakan ramah lingkungan ini adalah dunia tekstil dan fashion. Industri tekstil konvensional dikenal sebagai salah satu penyumbang pencemaran terbesar, terutama karena penggunaan bahan kimia pewarna sintetis yang dapat mencemari air dan merusak ekosistem. Kondisi inilah yang mendorong munculnya berbagai inovasi ramah lingkungan, salah satunya adalah teknik ecoprint.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menanggapi kondisi ini, dunia pendidikan juga berperan dalam mendorong munculnya berbagai inovasi ramah lingkungan, sekaligus mengembangkan bakat dan minat siswa dalam berketrampilan seni rupa yang terus berkembang. Seiring waktu, dengan munculnya berbagai teknik dan pendekatan baru dalam pembelajaran seni rupa di SD, Ecoprint yang memanfaatkan bahan-bahan alami seperti daun, bunga, dan kulit kayu untuk menciptakan motif unik pada kain, menjadi salah satu inovasi menarik dalam seni rupa kontemporer. Ecoprint bukan hanya menciptakan pola yang indah, tetapi juga menghargai alam, memanfaatkan sumber daya secara berkelanjutan, dan mengeksplorasi potensi kreatif yang tak terbatas. Ecoprint, sebagai teknik pewarnaan alami pada kain, bukan hanya sekedar metode transfer motif tumbuhan. Lebih dari itu, Ecoprint adalah media ekspresi kreatif yang menawarkan ruang tanpa batas bagi pembelajar seni dan para pengrajin untuk berinovasi. Opini ini membahas bagaimana ecoprint membuka dimensi baru dalam seni rupa kontemporer, mendorong eksplorasi material, dan merangsang intuitas siswa terhadap kesadaran lingkungan. Ecoprint sangat ramah lingkungan karena menggunakan bahan-bahan alami yang mudah didapatkan dan tidak mencemari lingkungan, sehingga aman diaplikasikan dalam pembelajaran di SD sebagai media belajar.
Cara menerapkan ecoprint dalam pembelajaran SD dengan melalui persiapan alat dan bahan berupa kain katun atau bahan alami lainnya. Siapkan juga daun, bunga, batang, atau bagian tumbuhan lain yang menghasilkan warna. Untuk membantu warna menempel gunakan cuka atau tawas sebagai mordant dengan cara rendam kain dalam larutan cuka selama minimal 30 menit, peras kain hingga tidak terlalu basah. Bentangkan kain di atas alas plastik, tata daun, bunga, atau bagian tumbuhan lain di atas kain sesuai dengan desain yang diinginkan. Pastikan bagian tumbuhan yang berwarna menghadap ke kain. Tutup tumbuhan dengan kain perantara, pukul atau pipihkan tumbuhan dengan palu secara merata agar pigmen warna berpindah ke kain.. gulung kain dengan tumbuhan di dalamnya lalu ikat dengan tali atau karet gelang, kemudian kukus selama 1-2 jam. Cuci kain dengan air dingin dan jemur di tempat yang teduh. Aktivitas ecoprint di SD bisa berupa membuat kain ecoprint untuk hiasan, membuat tas belanja ecoprint, membuat kartu ucapan ecoprint.
Potensi sumber daya alam di Indonesia yang melimpah menjadikan ecoprint sangat mudah berkembang pesat. Beragam jenis tumbuhan tropis menghasilkan warna dan pola yang khas , menjadikan ecoprint sebagai peluang baru dalam pengembangan industri kreatif dan ekonomi yang berkelanjutan. Dalam pembelajaran seni rupa, ecoprint menawarkan kebebasan berekspresi yang luas bagi siswa. Setiap lembar daun, setiap kelopak bunga, memiliki bentuk dan warna yang berbeda, sehingga setiap karya ecoprint menjadi unik dan tidak dapat ditiru secara sempurna. Dibalik potensi yang melimpah, ada tantangan di masa depan yaitu peluang besar bagi dunia pendidikan untuk semakin meningkatkan kesadaran siswa tentang isu-isu lingkungan, meningkatkan skill life melalui kreativitas tanpa batas. Teknik ecoprint memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna bagi siswa, serta mengembangkan pemahaman mereka tentang pemanfaatan bahan-bahan alami dalam seni rupa.
Aji Atma Wijaya











