Bumiayu, 11 Januari 2025 – Presidium Gunung Slamet Menuju Taman Nasional menggelar rapat koordinasi dan konsolidasi lintas organisasi dalam rangka memperkuat gerakan penyelamatan Gunung Slamet serta mendorong penguatan status kawasan menuju Taman Nasional. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Minggu, 11 Januari 2026, bertempat di Bumiayu, Kabupaten Brebes, tepatnya di rumah Saudara Sigit, kawasan Pasar Wage.
Rapat ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat sipil, mulai dari komunitas lingkungan, pecinta alam, organisasi mahasiswa, relawan kebencanaan, hingga insan pers. Forum ini menjadi ruang diskusi bersama untuk menyamakan persepsi, membangun komitmen, serta merumuskan langkah strategis dalam menjaga kelestarian Gunung Slamet sebagai kawasan penyangga kehidupan.
Ketua Presidium Gunung Slamet Menuju Taman Nasional, Andi Rustono, menegaskan bahwa konsolidasi ini merupakan bagian dari tanggung jawab moral bersama dalam merawat dan memulihkan ekosistem Gunung Slamet.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Gunung Slamet adalah sumber kehidupan bagi banyak wilayah di sekitarnya. Upaya menuju Taman Nasional bukan sekadar wacana, tetapi ikhtiar bersama agar perlindungan hutan dapat dilakukan secara lebih terstruktur dan berkelanjutan,” ujar Andi.
Senada dengan itu, Sekretaris Presidium, M. F. Rozak, menyampaikan bahwa forum ini menekankan pentingnya kolaborasi antara relawan, masyarakat lokal, akademisi, dan pemerintah dalam setiap proses pengambilan kebijakan.
“Kami mendorong pendekatan musyawarah dan kajian yang matang. Taman Nasional harus dipahami sebagai ruang perlindungan sekaligus ruang hidup yang tetap berpihak pada masyarakat sekitar,” jelasnya.
Rapat koordinasi ini diikuti oleh 16 organisasi, di antaranya Presidium Gunung Slamet Menuju Taman Nasional, Jagarimba Indonesia, Relica, Gagak Hitam, Garanggati Communicate, Mapala Sakti, Mahapala Bumi, Save Slamet, Gempas, HW UMBS, SWB Bumiayu, Padepokan Lintang Kemukus Pemalang, PWI LS Pemalang, Karang Taruna Tunas Jati, River Side, serta MDMC.
Para peserta sepakat bahwa penyelamatan Gunung Slamet harus dilakukan secara bertahap, konsisten, dan bertanggung jawab, mulai dari edukasi masyarakat, aksi penanaman dan perawatan pohon, hingga penguatan advokasi kebijakan.
“Menjaga Gunung Slamet berarti menjaga masa depan. Ini bukan kerja satu kelompok, tapi kerja bersama lintas generasi,” ujar salah satu perwakilan peserta.
Presidium Gunung Slamet Menuju Taman Nasional menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang dialog dan kolaborasi dengan seluruh pihak demi terwujudnya Gunung Slamet yang lestari dan berkeadilan.
Edi Purwanto











