Banyumas, 15 April 2026 – Pemberitaan yang disajikan oleh Majalah Tempo belakangan ini menuai sorotan publik. Tidak hanya isi laporannya yang dianggap berlebihan, tetapi juga tampilan sampul yang dinilai sebagian kalangan telah melampaui batas kepatutan, bahkan terkesan menghina. Reaksi pun bermunculan dari berbagai pihak, termasuk dari internal Partai NasDem.
Namun demikian, sebagai salah satu media yang memiliki reputasi panjang dalam jurnalisme investigatif di Indonesia, Majalah Tempo diharapkan dapat terus menjaga standar profesionalisme, terutama dalam hal penyajian visual dan narasi. Kritik yang tajam tentu merupakan bagian dari fungsi pers dalam demokrasi, tetapi penyampaiannya perlu tetap memperhatikan etika, akurasi, serta sensitivitas publik agar tidak menimbulkan tafsir yang berlebihan atau memicu ketegangan yang tidak perlu.
Anggota DPRD Provinsi dari Fraksi NasDem, Edris Santoso, yang juga menjabat sebagai Ketua DPD NasDem Kabupaten Banyumas, menyampaikan keyakinannya bahwa Surya Paloh tidak mungkin bertindak gegabah sebagaimana yang digambarkan dalam pemberitaan tersebut. Ia menekankan bahwa perjalanan panjang Surya Paloh bersama para pendiri partai tidaklah dibangun secara instan atau tanpa arah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Edris, Partai NasDem lahir dari gagasan besar tentang perubahan dan kemajuan bangsa. Partai ini bukan sekadar wadah politik, melainkan sebuah gerakan yang membawa nilai dan cita-cita untuk diwariskan kepada republik. Seiring waktu, NasDem telah berkembang menjadi kekuatan publik yang signifikan, dengan jutaan pemilih, kader, serta ribuan anggota legislatif di berbagai tingkatan.
“Setiap pemilihan legislatif, perolehan kursi terus meningkat. Ini menjadi bukti bahwa apa yang dirintis sejak awal telah mendapat kepercayaan luas dari masyarakat,” ujar Edris. Ia menambahkan, keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Surya Paloh sebagai inisiator utama, sebuah kepuasan yang tidak dapat diukur secara materi.
Senada dengan itu, Sekretaris DPD NasDem Banyumas, Yayat, menilai bahwa sudut pandang pemberitaan yang menyamakan partai politik dengan entitas bisnis merupakan kekeliruan mendasar. Menurutnya, meskipun Surya Paloh dikenal sebagai pengusaha sekaligus politisi berpengalaman, pengelolaan partai politik tidak dapat disamakan dengan mekanisme korporasi.
Ia juga menambahkan bahwa media memiliki tanggung jawab besar dalam membangun literasi politik publik. Oleh karena itu, framing yang digunakan sebaiknya lebih proporsional, tidak menyederhanakan persoalan kompleks, serta memberi ruang pada berbagai perspektif agar publik mendapatkan gambaran yang utuh dan tidak bias.
Edris juga menegaskan sikap moral politik yang ditunjukkan NasDem dalam dinamika kekuasaan saat ini. Meskipun tidak berada dalam barisan pemenang pemilu presiden, NasDem tetap menunjukkan dukungan terhadap pemerintahan Prabowo Subianto sebagai bentuk tanggung jawab kebangsaan.
“Pak Surya mengajarkan satu nilai penting kepada publik, yakni tahu diri dalam politik. Ini adalah pelajaran etis yang patut dijaga dan diterjemahkan dalam praktik politik ke depan,” pungkas Edris.
Ari Septiana











