Kebumen, 23 Juli 2026 – Seminar Kewirausahaan bagi Santri Kebumen bertajuk “Menabur Benih Santri Entrepreneur Sejak Dini” yang digelar oleh Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (PP KAGAMA) bekerja sama dengan Pondok Pesantren Mahasiswa Insan Kamil Kebumen, Rabu (22/7/2026), tidak hanya menghadirkan motivasi berwirausaha, tetapi juga membekali peserta dengan materi mengenai mindset bisnis dan strategi membangun merek (branding).
Salah satu narasumber, Among Kurnia Ebo, seorang pengusaha, penulis, entrepreneur, trainer, dan traveler, menyampaikan bahwa santri perlu dibangun pola pikir kewirausahaannya sejak dini agar mampu mandiri secara ekonomi tanpa meninggalkan nilai-nilai agama.
“Mindset santripreneur harus dibangun sejak dini. Santri tidak hanya belajar agama, tata bahasa, dan ritual ibadah, tetapi juga harus memikirkan masa depannya agar memiliki kemandirian finansial. Kita ingin melahirkan santri yang bisa menjadi seperti Abdurrahman bin Auf dan para sahabat Rasulullah yang sebagian besar merupakan pebisnis. Nabi juga menyampaikan bahwa sembilan dari sepuluh pintu rezeki berada di dunia bisnis. Karena itu kami ingin menyebarkan virus entrepreneur kepada santri Pondok Pesantren Mahasiswa Insan Kamil agar mereka tidak hanya menjadi ahli agama, tetapi juga ahli usaha,” ungkap Ebo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pemaparannya, Ebo juga memberikan tiga bekal utama bagi mahasiswa dan santri yang ingin memulai usaha.
“Pertama, perbanyak ilmu bisnis dengan membaca buku-buku bisnis, mengikuti seminar maupun diskusi, serta bersilaturahmi dengan para pengusaha agar mendapatkan pengalaman langsung dari praktisi. Kedua, memiliki mentor bisnis sehingga dapat belajar dari pengalaman orang yang telah sukses dan menghindari banyak kesalahan. Ketiga, bergabung dalam komunitas bisnis agar tercipta kolaborasi dan saling menguatkan. Saat ini bukan lagi zamannya menjadi superman, tetapi superteam. Kesuksesan bisnis dibangun melalui kolaborasi,” jelasnya.
Ia berharap seminar tersebut mampu menumbuhkan keberanian peserta untuk memulai usaha.
“Harapan saya, minimal 20 persen peserta yang hadir benar-benar tertarik masuk ke dunia bisnis. Kami sudah memberikan bekal, jaringan, dan akan mengadakan diskusi rutin bagi para pebisnis pemula agar semangat berwirausaha terus tumbuh,” katanya.
Sementara itu, narasumber lainnya, Edy SR, seorang konsultan senior, pakar branding, dan pendiri Brandpreneur Lab, membawakan materi mengenai pentingnya membangun identitas usaha melalui branding sejak awal.
“Ketika seseorang memiliki ide usaha, tidak cukup hanya memiliki produk. Harus ada kesadaran branding. Setiap usaha harus memiliki nama, keunggulan kompetitif dibandingkan produk lain, dan mampu memberikan pengalaman yang berkesan kepada pelanggan. Tiga hal tersebut menjadi fondasi agar sebuah usaha dapat berkembang,” jelas Edy SR.
Menurutnya, branding merupakan salah satu faktor penting agar usaha mampu bertahan dan dikenal masyarakat.
“Kami berharap para santri memiliki semangat entrepreneurship sehingga tidak hanya kuat secara spiritual dan intelektual, tetapi juga kuat secara finansial melalui usaha mandiri. Dengan branding yang baik, pelanggan akan lebih mudah mengenali produk karena memiliki identitas dan keunggulan yang jelas,” ujarnya.
Melalui materi yang disampaikan kedua narasumber tersebut, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh motivasi untuk berwirausaha, tetapi juga memiliki bekal praktis dalam membangun usaha yang berdaya saing serta mampu menjadi penggerak ekonomi di lingkungan masing-masing.
Deni Setiawan












