Kebumen, 13 Mei 2026 – Universitas Muhammadiyah Gombong melalui mahasiswa Program Studi Hukum menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita pada Rabu (13/5/2026) di Gedung H Ruang H 202 UNIMUGO.
Kegiatan yang diikuti mahasiswa dan peserta umum tersebut diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Sang Surya, dan Mars Mahasiswa. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemutaran film dokumenter dan forum diskusi publik yang menghadirkan akademisi, peneliti, aktivis, hingga mahasiswa sebagai pemantik diskusi.
Hadir dalam kegiatan itu, Rahmad, S.H., M.H. selaku Kepala Program Studi Hukum UNIMUGO, Moh. Ramli, S.HI., M.H. sebagai dosen Hukum Tata Negara sekaligus penanggungjawab kegiatan, dan 3 narasumber yang berasal dari mahasiswa dan komunitas diskusi anak muda Kebumen diantaranya, Dewi Novitasari sebagai Mahasiswi Peneliti Isu Deforestasi, Nasikin sebagai Founder Anak Muda Institute Kebumen , dan Cipta Yanuar sebagai Founder Gubuk Thinking, serta Brynetta sebagai pemantik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua penyelenggara, Diana Novita mengatakan, kegiatan tersebut diselenggarakan untuk membuka ruang diskusi yang lebih luas terkait realitas sosial dan lingkungan di Papua yang selama ini dinilai masih minim dipahami masyarakat secara utuh.
“Selama ini banyak masyarakat, khususnya mahasiswa, hanya mengetahui Papua dari potongan berita atau media sosial. Melalui film dan diskusi publik, kami ingin mengajak peserta melihat dan memahami persoalan yang sebenarnya terjadi secara lebih kritis dan objektif,” ujarnya.
Menurut Diana, kegiatan tersebut juga menjadi ruang edukasi publik yang inklusif dan terbuka bagi siapa saja untuk menyampaikan pandangan secara akademis. Ia menegaskan bahwa forum tersebut tidak bertujuan untuk memprovokasi ataupun mengarah pada tindakan anarkis.
“Kami ingin membangun budaya diskusi yang sehat, kritis, dan tetap menghormati perbedaan pendapat,” katanya.
Sementara itu, Kaprodi Hukum UNIMUGO, Rahmad, S.H., M.H., menyampaikan bahwa kegiatan nobar dan diskusi film dokumenter tersebut merupakan bagian dari forum akademik untuk membedah persoalan sosial secara terbuka dan kritis.
Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki ruang dialog agar mampu memahami persoalan bangsa tidak hanya dari satu sudut pandang, tetapi juga melalui kajian ilmiah dan diskusi yang argumentatif.
Dalam sesi diskusi, Moh. Ramli, S.HI., M.H. berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang untuk menajamkan daya kritis mahasiswa terhadap berbagai persoalan sosial, hukum, dan kemanusiaan yang terjadi di Indonesia.
Selain membahas isu lingkungan dan masyarakat adat di Papua, diskusi juga mendorong peserta untuk lebih aktif melahirkan gagasan, tulisan akademis, maupun kajian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan data dan penelitian.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan adanya sesi tanya jawab antara peserta dan narasumber setelah pemutaran film dokumenter selesai.
Aji Atma Wijaya











