Purwokerto, 17 Juli 2026 – Perisai Demokrasi Bangsa (PDB) bekerja sama dengan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) menggelar Simposium Demokrasi bertema “Smart Voters, Bright Future: Manifestasi Suara Kelompok Muda di Era Demokrasi Digital” pada Kamis (16/7/2026) di Hotel Surya Yudha, Purwokerto. Kegiatan yang dimulai pukul 13.00 WIB tersebut dihadiri ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, akademisi, organisasi kepemudaan, serta pemantau pemilu se-Banyumas Raya.
Kepala Bagian Hubungan Antar Lembaga KPU RI, Andi Setio Pranata, hadir memberikan sambutan pembuka. Dalam kesempatan itu, ia mengapresiasi langkah PDB sebagai mitra strategis KPU RI dalam pendidikan pemilih.
“KPU RI sangat terbuka untuk kolaborasi seperti ini. Kunci demokrasi berkualitas ada di tangan pemilih cerdas, terutama anak muda. Di era digital, tantangannya adalah hoaks dan politik uang. Karena itu, Smart Voters harus menjadi gerakan bersama agar melahirkan Bright Future untuk demokrasi Indonesia,” tegas Andi Setio Pranata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sambutan juga disampaikan oleh Anggota KPU Kabupaten Banyumas, Yasum Surya Mentari, S.IP. Ia menekankan pentingnya literasi digital bagi pemilih pemula.
“KPU tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan masyarakat sipil seperti PDB sangat membantu kami menyebarluaskan pendidikan pemilih. Anak muda harus paham hak dan kewajibannya, serta berani menjadi agen sosialisasi di lingkungannya,” ujar Yasum.
Simposium tersebut menghadirkan empat tokoh sebagai narasumber, yakni Masykurudin Hafidz selaku Rektor Akademi Pemilu & Demokrasi, Rani Zuhriyah selaku Anggota Bawaslu Banyumas, M. Rikza Hasballa selaku Ketua Umum Pengurus Nasional PDB, serta Ahmad Rizqinal Mubarok selaku Ketua PDB Jawa Tengah.

Ketua Umum Pengurus Nasional PDB, M. Rikza Hasballa, menegaskan bahwa simposium ini menjadi wadah strategis untuk mendorong partisipasi aktif generasi muda dalam kehidupan demokrasi.
“Ini merupakan manifestasi nyata suara kelompok muda. Pemilih muda harus cerdas dalam menyaring informasi di era demokrasi digital,” ujarnya.
Dalam sesi pemaparan materi, Masykurudin Hafidz mengulas tantangan disinformasi dan misinformasi di media sosial. Ia menekankan pentingnya literasi digital bagi pemilih pemula agar tidak mudah terprovokasi isu SARA maupun hoaks yang dapat merusak kualitas pemilu.
Sementara itu, Rani Zuhriyah menjelaskan pentingnya pengawasan partisipatif oleh masyarakat. Menurutnya, generasi muda harus berani melaporkan dugaan pelanggaran pemilu, terutama praktik politik uang dan politisasi SARA, demi mewujudkan pemilu yang jujur dan adil.
Adapun Ahmad Rizqinal Mubarok memaparkan komitmen PDB Jawa Tengah dalam menggerakkan pemilih muda melalui pendidikan politik di daerah. Ia mengajak seluruh organisasi kepemudaan di Banyumas Raya untuk bersinergi menjadi garda terdepan dalam meningkatkan kesadaran politik masyarakat di tingkat akar rumput.
Kegiatan Simposium Demokrasi ditutup dengan seruan “AYO PANTAU BERSAMA!” sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjaga integritas, kualitas, dan keberlangsungan demokrasi Indonesia melalui partisipasi aktif masyarakat, khususnya generasi muda.
Feri Surohman












