Kebumen (29/6/2025) – Dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 H dan Tahun Baru Jawa Dal 1958, Desa Penimbun, Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen menggelar tradisi Grebeg Syuro sebagai bentuk pelestarian budaya dan penghormatan kepada para leluhur. Tradisi ini rutin dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat bersama Pemerintah Desa Penimbun.
Perayaan Grebeg Syuro yang mengangkat tema “Nguri-Uri Budaya lan Agama Urip Guyub Rukun Gawe Sentosa” ini diawali dari kediaman Kepala Desa Penimbun dan dilanjutkan menuju area acara di situs cagar budaya Kuwu Batur, yang menjadi lokasi doa bersama dan ritual adat.
Acara ini turut dihadiri oleh Camat Karanggayam Pradipta Anggi Wirasanto, S.STP., M.Si., KH. Slamet Sugiarto (Ki Ageng Khabul Sukmo) dari Desa Gumelem Kulon, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, serta para tokoh agama, tokoh masyarakat, sesepuh desa, ketua BPD, ketua RT/RW, karang taruna, perangkat desa, anggota Koramil Karanggayam, anggota Polsek Karanggayam, dan seluruh elemen masyarakat Desa Penimbun.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sarno, selaku panitia sekaligus tokoh masyarakat, menyampaikan bahwa acara Grebeg Syuro ini telah berjalan selama tiga tahun sejak Saejan menjabat sebagai Kepala Desa Penimbun.

“Di desa ini beda dengan desa lainnya, artinya siapapun yang jadi Kepala Desa Penimbun dianggap sebagai juru kunci petilasan Kuwu Batur,” ujarnya.
Sarno menambahkan bahwa Kepala Desa Penimbun, Saejan, juga sangat menjaga dan melestarikan budaya leluhur. Hal ini dibuktikan dengan pembangunan area Cagar Budaya Kuwu Batur, yang dipercaya masyarakat setempat sebagai lokasi cikal bakal berdirinya Desa Penimbun.
“Ini merupakan sebuah petilasan yang dipercaya warga sini sebagai petilasan Wali, tapi tidak tahu siapa. Cerita turun-temurun leluhur di sini dulunya mau dibangun sebuah masjid tapi tidak selesai. Dulu itu namanya Tenimbun, seiring berjalannya waktu berubah menjadi Penimbun,” jelas Sarno kepada wartawan, Jumat (27/6/2025).
Selain itu, Sarno menjelaskan bahwa tujuan dari Grebeg Syuro adalah untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yaitu Allah SWT, agar seluruh masyarakat Desa Penimbun diberikan kesehatan, keberkahan, dan ketentraman.
“Bisa mempertahankan budaya dan tradisi agar jangan sampai hilang sekaligus memberikan pemahaman kepada generasi muda agar menyadari dan memahami apa yang dimaksud tentang jati diri menurut agama sesuai yang kita anut,” tuturnya.
Sarno juga berharap agar kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan dan dipertahankan, sembari terus membenahi kekurangannya.
“Sedangkan untuk generasi muda supaya selalu ingat akan asal usulnya dan bisa menghormati etika tata bahasa dan sopan santun,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Penimbun, Saejan, menyampaikan bahwa penyelenggaraan Grebeg Syuro merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT serta sebagai upaya uri-uri (melestarikan) budaya kepada generasi penerus di Desa Penimbun.
“Biar tidak hilang di Desa Penimbun dan masyarakatnya bisa rukun berdampingan,” ujarnya.
Saejan juga menambahkan bahwa selain doa bersama di petilasan Kuwu Batur, juga dilaksanakan siraman rohani oleh KH. Slamet Sugiarto yang menyampaikan makna dari Grebeg Syuro tersebut.
Masih dalam rangkaian kegiatan budaya, pada 4 Juli 2025 mendatang akan digelar acara Sedekah Bumi dengan penyembelihan kambing kendit serta kegiatan bersih-bersih serentak di seluruh makam yang ada di Desa Penimbun.
“Puncaknya pada 13 Juli, Pemerintah Desa Penimbun juga akan menampilkan pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh dalang Ki Eko Suwaryo,” imbuh Saejan.
(Haidir/Eko)











