Kebumen, 22 Juli 2026 – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Kebumen mendukung peluncuran inovasi SIBANTING (Skrining TB Balita Stunting) yang digagas oleh Puskesmas Pejagoan sebagai upaya memperkuat deteksi dini Tuberkulosis (TB) pada balita stunting sekaligus mempercepat pencapaian target eliminasi TB. Peluncuran inovasi tersebut dilaksanakan pada Rabu (22/7/2026) di Desa Kuwayuhan, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen, bersamaan dengan kegiatan Mutual Check 100 persen Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) bagi pasien Tuberkulosis.
Kepala Dinkes PPKB Kabupaten Kebumen, dr. Iwan Danardono, Sp.Rad., M.M.R.I, mengatakan bahwa SIBANTING merupakan inovasi yang sejalan dengan program nasional percepatan eliminasi Tuberkulosis. Melalui program ini, balita yang mengalami stunting menjadi sasaran skrining untuk mendeteksi kemungkinan infeksi TB sejak dini sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
“Kegiatan hari ini adalah launching salah satu program inovasi dari Puskesmas Pejagoan yaitu SIBANTING (Skrining TB Balita Stunting). Balita stunting yang ada di wilayah kerja Puskesmas Pejagoan dilakukan skrining TB. Ini merupakan inovasi yang sangat baik dan sangat mendukung program pemerintah untuk eliminasi TB. Harapannya semua pasien TB yang ada di wilayah Puskesmas Pejagoan dapat terdeteksi, kemudian mendapatkan pengobatan sehingga mampu mempercepat penurunan bahkan eliminasi kasus TB di Kecamatan Pejagoan,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia berharap inovasi tersebut tidak hanya diterapkan di wilayah kerja Puskesmas Pejagoan, tetapi juga dapat direplikasi oleh puskesmas lain di Kabupaten Kebumen agar target eliminasi TB dapat tercapai.
“Kami tentunya sangat mendukung inovasi program SIBANTING ini. Harapannya dapat direplikasi di wilayah kerja puskesmas lain di Kabupaten Kebumen sehingga target eliminasi TB yang telah ditetapkan pemerintah dapat tercapai,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Pejagoan sekaligus inovator program SIBANTING, dr. Timbul Pranoto, M.Sc, menjelaskan bahwa program tersebut menyasar balita stunting untuk menjalani skrining TB sejak dini. Apabila hasil skrining menunjukkan indikasi Tuberkulosis, maka akan dilanjutkan dengan pemeriksaan lebih lanjut hingga pengobatan sesuai ketentuan.
“Balita-balita stunting dilakukan skrining TB, kemudian dilakukan penilaian. Apabila hasil penilaian memenuhi kriteria, akan dilanjutkan dengan pemeriksaan dan pengobatan TB. Program ini sudah kami laksanakan bukan hanya di Desa Kuwayuhan, tetapi juga di banyak desa di wilayah kerja Puskesmas Pejagoan,” jelas dr. Timbul Pranoto, M.Sc.

Menurutnya, inovasi SIBANTING diharapkan mampu meningkatkan penemuan kasus TB sejak dini pada kelompok balita yang berisiko sekaligus menjadi model yang dapat diterapkan di puskesmas lain dalam mendukung percepatan eliminasi Tuberkulosis.
Dukungan terhadap program tersebut juga disampaikan Camat Pejagoan, Dra. Rusta Nurhayati. Ia mengapresiasi inovasi yang dikembangkan Puskesmas Pejagoan dengan dukungan Dinkes PPKB Kabupaten Kebumen sebagai bentuk komitmen bersama dalam menekan angka kasus Tuberkulosis.
“Kami sangat mendukung dan memberikan apresiasi kepada jajaran Dinas Kesehatan maupun Puskesmas Pejagoan karena program ini akan mendukung gerakan bebas TB di wilayah Kecamatan Pejagoan, baik melalui program Kemuning Segar, Ketemu Maning dengan pasien sembuh TB, maupun SIBANTING (Skrining TB Balita Stunting),” katanya.
Ia berharap keberhasilan program tersebut mendapat dukungan dari seluruh elemen masyarakat melalui sinergi lintas sektor.
“Harapannya tentu ada dukungan dan sinergi lintas sektor, baik Forkopimcam maupun masyarakat, sehingga upaya eliminasi TB di Kecamatan Pejagoan dapat berjalan dengan optimal,” ujarnya.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, rombongan juga meninjau rumah penerima bantuan RTLH bagi pasien Tuberkulosis. Penerima bantuan, Sumeri, orang tua dari Dafi Asoleh Oktafian, mengaku kondisi rumahnya kini jauh lebih layak dan sehat untuk ditempati setelah mendapatkan bantuan perbaikan.
“Rumah sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya. Dulu terasa panas karena ventilasi kurang, sirkulasi udara dan pencahayaan juga minim. Sekarang rumah lebih terang, lebih sehat, dan lebih nyaman untuk ditempati,” pungkas Sumeri.
Deni Setiawan












