Kebumen – Keberadaan Bendungan Kali Turus di Wilayah Kecamatan Adimulyo Kebumen dirasakan oleh beberapa Warga Masyarakat sangat merugikan. Terutama di Desa yang berada di atas Bendungan tersebut. Mereka merasa terganggu dan dirugikan akibat lahan pertaniannya terendam air akibat meluapnya aliran sungai saat bendungan tersebut ditutup guna mengaliri persawahan Desa yang lain yaitu Desa Adimulyo, Desa Banyurata dan Desa Mangunharjo.
Saat awak media meninjau lokasi bendungan dan persawahan yang tergenang air hingga ke pekarangan warga, awak media menemui beberapa warga sekitar pada Senin (6/5/2024) untuk meminta penjelasan dan keterangan. Salah satunya Bapak Kasimin mantan Ketua RW di Desa Adikarto Kec Adimulyo.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kasimin dan beberapa warga menjelaskan sekaligus mengeluhkan tentang kondisi lingkungannya. Beliau menyampaikan betapa sedihnya karena banyak warga yang merasa beka bekuh, ( bahasa Jawanya) karena keadaan seperti ini sudah terjadi hampir puluhan Tahun. Mangsa ketiga atau rendeng lahan sawahnya tidak bisa panen. Ditanami aja sulit, karena selalu menjadi korban akibat adanya Bendungan tersebut yang mengakibatkan banjir. Baru di tutup satu minggu saja air sudah menggenangi puluhan hektar. Entah sampai kapan kondisi seperti ini akan terjadi. Karena tidak adanya perhatian dari pihak terkait.
Menurut Kasimin “Apalah daya Masyarakat kecil atau Wong cilik. Mau mengadu kepada siapa lagi? Sudah puluhan kali mengadu kepada Pihak Desa dan Kecamatan tetapi belum ada upaya sama sekali untuk memperbaiki ataupun dipindah lokasinya. Jadi kami sudah jenuh dan bosan dan hanya bisa pasrah pungkasnya.”

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Warga Banyurata. Walaupun Bendungan tersebut sebagian adalah untuk mengaliri persawahan di Banyurata dan Mangunharjo namun dirasa sangat tidak maksimal karena juga menyulitkan sebagian warga lokal. Karena ketika warga butuh air harus kerja keras membuat Bendungan secara Swadaya yang melibatkan beberapa Warga Desa lain.
Disisi lain ketika air harus dibendung maka warga yang berada di atas akan terkena dampak banjir. Akibatnya sawah tidak bisa ditanami, hal ini sudah berlangsung cukup lama. Hampir puluhan tahun dan tidak ada Perhatian dari Dinas Terkait apalagi kini sebagian saluran irigasinya juga sudah mulai rusak dan kurang berfungsi.
Suroso/ Dwi Haryono











