Wonosobo (26/6/2025) — Sosok Didi Kusnadi kembali mencuri perhatian publik setelah menerima Penghargaan Purna Migran Inspiratif Nasional dalam peluncuran program Desa Migran Emas oleh Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI). Namun, kiprahnya tak hanya berhenti sebagai inspirator migran. Ia kini juga tercatat sebagai bagian dari pengurus Dekranasda Kabupaten Cirebon periode 2025–2030, menjembatani dunia migran dan industri kreatif daerah.
Dalam momentum penghargaan nasional yang diterimanya langsung dari Menteri KP2MI, H. Abdul Kadir Karding, S.Pi., M.Si, Didi tampil mengenakan batik “Megamendung Ngayomi Pelem”, motif khas yang merupakan seragam resmi Dekranasda Cirebon. Penampilannya tidak hanya mencerminkan identitas budaya lokal, tapi juga menyiratkan komitmen kuat untuk mengangkat potensi daerah melalui jalur kewirausahaan.
Menurut Didi, purna migran perlu lebih aktif menjalin komunikasi dan silaturahmi dengan dinas-dinas yang mengurusi sektor ekonomi dan industri, seperti Disperindag atau Koperasi & UMKM.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Seringkali informasi pelatihan, perizinan, sampai pendampingan itu mandek karena kita sendiri tidak jemput bola. Padahal modal dari luar negeri sudah ada, tinggal ditambah akses pengetahuan dan jaringan, maka pertumbuhan usaha lebih mudah terjadi,” ujarnya.
Didi juga menekankan pentingnya peran migran sebagai duta promosi industri kecil menengah (IKM) daerah masing-masing.
“Selama kita bekerja di luar negeri, sebenarnya banyak momen kita bisa mengenalkan produk daerah. Sekecil apapun, itu mengasah mental wirausaha. Dan ketika pulang, kita sudah punya bekal relasi dan pola pikir yang lebih terbuka,” tambahnya.
Sebagai pemilik Mawar Fashion, unit usaha busana muslim bordir asal Arjawinangun dengan omzet mencapai Rp90 juta per bulan, Didi adalah contoh konkret bahwa keberhasilan di luar negeri bisa dilanjutkan dengan kejayaan di dalam negeri. Usahanya tak hanya membuka lapangan kerja, tapi juga mengangkat potensi lokal Cirebon ke tingkat nasional.
Dengan perannya kini di Dekranasda, Didi berharap akan lahir lebih banyak sinergi antara migran, pemerintah, dan pelaku industri, sehingga desa-desa migran bukan hanya tempat pemulangan, tapi juga pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis diaspora.
Nur Cholis











