Kebumen, 19 Oktober 2026 – Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, menggelar pelatihan kewirausahaan bertajuk “Muda Berdaya” di Hotel Mexolie Kebumen, Senin (19/10/2026). Program percontohan ini menyasar pemuda berusia 18 sampai 30 tahun dan diharapkan membantu menekan kemiskinan serta pengangguran di daerah itu.
Pelatihan tersebut mengusung tema “Transformasi Pemberdayaan Pemuda Menjadi Wirausahawan dengan Experiential Learning Berbasis Mentoring (ELBM) untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah Kabupaten Kebumen”.
Kepala Disdikpora Kebumen Agus Sunaryo menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari proyek perubahan di instansinya yang membawahi tiga bidang, yakni pendidikan, kepemudaan, dan olahraga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kegiatan hari ini adalah bagian dari proyek perubahan dari Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Kebumen di mana Disdikpora itu mempunyai tanggung jawab di tiga hal, yaitu terkait dengan pendidikan, terkait dengan kepemudaan, dan terkait dengan olahraga,” ujar Agus.
Menurut Agus, bidang pendidikan dan olahraga selama ini sudah mendapat banyak perhatian, sedangkan pemberdayaan pemuda belum menjadi arus utama. Ia menegaskan hal itu akan berubah mulai tahun ini.
“Akan tetapi yang terkait dengan pemberdayaan pemuda itu relatif kemarin-kemarin itu belum menjadi arus utama lah. Mulai tahun ini dan ke depan ini pemberdayaan pemuda itu harus juga menjadi perhatian utama,” katanya.
Beda dari pelatihan biasa
Agus menyebut Kebumen perlu segera menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran yang masih relatif tinggi. Pemberdayaan pemuda, menurut dia, menjadi salah satu solusinya.
Ia mengatakan, organisasi perangkat daerah (OPD) lain selama ini melatih pemuda agar menjadi pekerja. Disdikpora memilih pendekatan berbeda, yakni mendorong pemuda menciptakan lapangan kerja sendiri.
“Di Dinas Pendidikan Kepemudaan Olahraga ini ada yang berbeda. Kita melakukan pemberdayaan dari pemuda untuk bisa menciptakan pekerjaan. Menciptakan pekerjaan sehingga itu bisa wirausahawan. Kita mulai dari sesuatu yang sederhana. Tetapi harapan kami ini adalah mempunyai dampak yang luar biasa khususnya di dalam pengurangan kemiskinan,” tuturnya.
Agus menjelaskan, satu pengusaha baru akan membuka kesempatan kerja bagi orang lain sehingga berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Kegiatan hari ini, kata dia, dianggap sebagai proyek percontohan.
Seleksi dan magang
Pendaftaran peserta dibuka melalui Google Form dengan batas usia 18 sampai 30 tahun. Pendaftaran ditutup setelah mencapai 60 orang.
“Dari 60 itu kita lakukan pelatihan dan dari pelatihan ini narasumber yang kita datangkan itu narasumber yang kompeten, baik itu yang sifatnya adalah klasikal,” kata Agus.
Dari 60 peserta itu, panitia menyeleksi berdasarkan rencana usaha, proposal, dan jenis usaha, lalu memilih 20 orang sebagai peserta proyek percontohan. Ke-20 peserta tersebut akan magang pada mentor di dunia usaha nyata.
Disdikpora telah memilih empat mentor sesuai klaster, yaitu kuliner, ekonomi kreatif, usaha jasa, dan penjualan daring. Setiap mentor membimbing lima peserta.

“Di sana nanti akan magang, berwirausaha. Dan di sana nanti akan terjadi proses problem solving. Tentunya kan karena ini anak-anak muda yang belum pernah berwirausaha kan akan menemukan banyak masalah gitu. Dari masalah itu nanti mentor yang akan bisa memberikan penjelasan-penjelasan,” ucapnya.
Setelah magang, peserta diminta membuat perencanaan usaha sederhana. Disdikpora mengupayakan bantuan modal Rp2 juta per orang dari dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) sejumlah perusahaan di Kebumen dan pihak lain.
Dalam jangka waktu tertentu, Disdikpora akan mengevaluasi dan memilih enam usaha terbaik. Peringkat pertama mendapat tambahan modal Rp4 juta, disusul Rp3 juta, Rp2,5 juta, dan Rp2 juta, hingga peringkat keenam. Disdikpora juga akan membantu peserta mengurus nomor induk berusaha (NIB) melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).
“Nah, ini adalah kemudahan-kemudahan yang kita lakukan seperti itu. Prinsipnya ini adalah anak-anak ini berani memulai berusaha sehingga langsung mengeksekusi untuk bisa berwirausaha. Tidak hanya angan-angan saja,” ujar Agus.
Agus menilai, program ini berbeda dari pelatihan kewirausahaan lain karena peserta didampingi pelaku usaha langsung.
“Kalau yang lain itu hanya sebatas di kelas dan itu hanya materi-materi dari orang-orang yang mengerti tentang teori-teori kewirausahaan tetapi tidak pernah berwirausaha. Itu bedanya. Sehingga ini ada mentor yang membantu dan yang mentor itu adalah orang-orang yang memang itu sudah berwirausaha,” katanya.
Ubah pola pikir
Menurut Agus, program ini juga bertujuan mengubah pola pikir pemuda agar tidak hanya bercita-cita menjadi pegawai. Ia menyebut data menunjukkan persentase tenaga kerja yang terserap di sektor formal sangat kecil.
“Menjadi pekerja itu juga enggak salah. Tetapi ketika ini ada keterbatasan kesempatan, maka dia harus mempunyai alternatif juga yang lain. Dan alternatif itu adalah bagaimana justru dia menciptakan pekerjaan. Dan ketika dia itu bisa menciptakan pekerjaan, pada saatnya dia justru mendatangkan orang-orang lain untuk bekerja di dalam usahanya,” tuturnya.
Ia melanjutkan, perubahan tersebut menyangkut cara pandang pemuda terhadap dirinya sendiri.
“Kita merubah mindset dari mental pekerja menjadi mental pengusaha,” kata Agus.
Agus menjelaskan, seorang pekerja berada pada posisi “tangan di bawah” dengan penghasilan terbatas. Jika pola pikirnya diubah menjadi “tangan di atas”, usahanya akan berkembang dan penghasilannya tidak terbatas.
Diperluas lewat Karang Taruna
Jika hasil proyek percontohan ini signifikan, Disdikpora berencana memperluas program ke seluruh Kebumen melalui Karang Taruna di tingkat desa. Disdikpora akan mengusulkan peraturan bupati (perbup) kepada Bupati Kebumen Hj. Lilis Nuryani agar pemberdayaan pemuda menjangkau level desa.
“Ketika ini nanti hasilnya itu sudah kita dapatkan cukup signifikan, kami berharap ini bisa dideseminasikan ke seluruh Kabupaten Kebumen melalui Karang Taruna yang ada di desa,” ujar Agus.
Setiap desa diharapkan melatih 10 pemuda menjadi wirausahawan baru dengan investasi dari dana desa yang tidak terlalu besar.
“Kalau ada 10 setiap desa dengan jumlah desa yang ada di kabupaten kita itu 460 desa, maka akan dihasilkan wirausahawan kurang lebih 4.600,” katanya.
Agus menambahkan, meski tidak semua usaha berhasil, jumlah wirausahawan yang bertahan tetap akan banyak dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Kebumen.
Ia menegaskan, program ini disiapkan untuk melahirkan wirausahawan baru sekaligus mempercepat pengentasan kemiskinan.
“Dalam rangka untuk menyiapkan wirausahaan baru di Kabupaten Kebumen dan ini juga dalam rangka untuk melakukan percepatan pengentasan kemiskinan di Kabupaten Kebumen. Yang kita lakukan adalah upaya-upaya yang sifatnya adalah bagaimana bisa dieksekusi secara langsung,” ucapnya.
Deni Setiawan











